Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 25 April 2011

Pelantikan Pengurus Cabang Muhammadiyah Enrekang

Pelantikan para pengurus cabang muhammadiyah Enrekang dipusatkan di Kecamatan Maiwa (24-April). Jumlah cabang yang dilatik para pengurusnya adalah 24 PC termasuk pengurus cabang tuan rumah.
Turut handir dan memberikan sambutan diantaranya Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Enrekang, Camat Maiwa, dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Propinsi Sulawesi Selatan.

Dalam sambutannya, Pimpinan wilayah Muhammadiyah Sul-Sel memberikan aspresiasi atas antusiasme PD Muhammadiyah Kabupaten Enrekang dalam merampungkan para pengurus cabang dan ranting. “Kabupaten Enrekang merupakan daerah nomor satu dalam merampungkan pengurus cabangnya.” Kata Beliau. Beliau melanjutkan, “PD Enrekang, juga nomor satu yang mengadakan musyawarah daerah, kemudian disusul Takalar, Pinrang dan daerah lainnya.”
Acara ini dimulai pada pukul 10.00 dan berakhir saat azan Dhuhur mulai dikumdangkan. Sebelum menutup pelantikan para pengurus, Pimpinan Wilayah berpesan bahwa setiap pengurus harus menjalankan amanah yang dibebankan kepadanya.
Para Pimpinan Pengurus Muhammadiyah didampingi Camat Maiwa.
Sambutan Camat Maiwa selaku tuan rumah.

Pengarahan dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan.

Sambutan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Enrekang.



Read More......
Read More......

Sabtu, 01 Januari 2011

Wirawisata Smayer: Menguak Korelasi Sejarah (2)

Suasana senang bercampur rasa penasaran mewarnai muka-muka para rombongan. Rombongan wirawisata smayer berangkat dengan 3 bis. Bis pertama ditempati rombongan 1 yang terdiri dari anak-anak kelas XII IPA 1. Untuk kelas XII IPA 2 dan 3, mereka masing-masing menumpang bis 2 dan bis 3. Jumlah dari 3 rombongan diperkirakan lebih dari 100 siswa ditambah para guru.

Dengan kecepatan sedang, ketiga mobil rombongan melalui jalan berliku dan berbelok. Jalan disini tidak tanggung-tanggung, belokannya tajam habis. Sesekali teriakan histeris terdengar memenuhi ruang bis saat sopirnya membanting stir cukup tajam. Membayangkan Toraja yang masih jauh di ujung Utara sana, kami tahu bahwa jalan berkelok ini belumlah apa-apa. “Wah…., hu…hu….” Teriak anak-anaknya saat mobil miring ke kiri.

Perjalanan yang mengasikkan, tak terasa kami sudah sampai di ujung utara kabupaten Enrekang, tepatnya di Salu Barani. Kampung Salu Barani adalah daerah perbatasan kedua kabupaten yang secara histori bersaudara. Suasana sungguh berbeda, kami merasa beruntung telah memasuki daerah yang menjadi salah satu tujuan wisata di Indonesia ini. Rumah-rumah terlihat indah dengan kekhasan tersendiri. Rumah yang dinamai Tongkonan telah melegenda sejak dulu. Untuk membedakannya dengan rumah pada umumnya, kita cukup melihat bagian atapnya yang menjulang tinggi, persis seperti tanduk kerbau. Kerbau tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan Toraja. Kerbau adalah hewan istimewa dikalangan mereka.

Mobil rombongan terus berjalan jauh dari perbatasan menuju pusat kota. Berbagai replica dan patung membuat mata kami tak dapat dipejam. Kami terus memperhatikan sisi kanan dan kiri daerah serumpun kami ini.

Read More......
Read More......

Rabu, 29 Desember 2010

Wirawisata Smayer: Menguak Korelasi Sejarah (1)

Wirawisata Smayer: Menguak Korelasi Sejarah (1)
Layak bagi orang Toraja berbangga diri dengan berbagai budaya nenek moyangnya yang sampai sekarang terus dipelihara dan bahkan menjadi tujuan wisata. Wisatawan yang datang, bukan hanya local seperti kami, melainkan wisatawan dari Negara-negara barat. Timbul pertanyaan besar ketika seorang bapak guru memberikan gambaran korelasi budaya kedua daerah. Daerah yang saya maksud adalah Enrekang dan Toraja. “Enrekang dan Toraja tidak bisa dipisahkan. Kedua daerah ini sangat menjalin keakraban sejak dulu kala.” Kata bapaknya ketika kami melihat kuburan yang ada di KETE KESU. “Bahkan, orang tua menyebut istilah Enrekang atas dan Toraja bawah. Artinya, orang Toraja menyebut Enrekang atas adalah Toraja dan Toraja bawah adalah Enrekang sebagai wujud keakraban.” Lantas, dimanakah Budaya Enrekang?


Melihat Kuburan batu dan gubuk lumbung padi di Kete Kesu dan Londa, mengingatkan kita pada sebuah kuburan batu dan gubuk lumbung padi sejenis yang ada di Enrekang. Walau kuburan batu di Enrekang tidak sepopuler di Toraja, setidaknya memberikan gambaran bahwa Enrekang adalah daerah yang melupakan sejarahnya. - Wah… lagi-lagi pertanyaan besar, Kenapa? - Kuburan yang ada di Tontonan sana, hampir sama dengan kuburan yang kami lihat di sini (Toraja). Kesamaannya dapat dilihat dari bentuk peti, usia, dan peletakannya yang unik.

Peti mayat di lokasi sekitar tiga kilometer dari jalan raya, atau setengah jam perjalanan dari Kecamatan Rantepao terbuat dari kayu. Peti ini seperti halnya peti mayat pada umumnya. Berbentuk segi lima dan panjang yang bervariasi. Usianya diperkirakan lebih dari 700 ratus tahun. (agus)

Read More......
Read More......

  ©Template by @gus.